Sunday, 05 July 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Capit Urang, Surga Para Mancing Mania di Tepian Way Raman Metro

05 July 2026 18:00 WIB
Oleh: Rina Wulandari
Dibaca: 5 kali
Bagikan:
Capit Urang, Surga Para Mancing Mania di Tepian Way Raman Metro
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

Kupastuntas.co, Metro – Jarum jam baru saja melewati pukul 16.00 WIB ketika satu per satu sepeda motor dan mobil mulai memenuhi kawasan Capit Urang, Bendungan Way Raman, di Kecamatan Metro Utara, Minggu (5/7/2026). 

Di tangan mereka tergenggam joran, ember kecil, tas berisi umpan, hingga termos kopi. Tak ada hiruk-pikuk seperti di tempat wisata modern. Yang terdengar hanya gemericik air, suara burung, tawa para pemancing, dan sesekali teriakan kegembiraan saat seekor ikan berhasil menyambar kail.

Pemandangan itu disaksikan langsung Kupastuntas.co saat menyusuri kawasan yang kini semakin dikenal sebagai destinasi favorit para penghobi memancing. Menjelang sore hingga matahari terbenam, tepian Bendungan Way Raman berubah menjadi ruang berkumpul lintas generasi. 

Mulai anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga lansia tampak duduk berdampingan. Bahkan, semakin banyak perempuan yang turut menikmati hobi memancing di lokasi tersebut.

Capit Urang merupakan kawasan di sekitar Bendungan Way Raman yang berada di wilayah Kecamatan Metro Utara, Kota Metro. Bendung ini memiliki fungsi utama sebagai infrastruktur pengairan yang mengatur distribusi air Sungai Way Raman untuk mengairi ribuan hektare lahan pertanian di Kota Metro, Kabupaten Lampung Tengah, hingga Kabupaten Lampung Timur. 

Keberadaannya menjadi salah satu penopang penting sektor pertanian, namun di sisi lain juga berkembang sebagai ruang wisata alam yang tumbuh secara alami dari kebiasaan masyarakat.

Secara geografis, Bendung Way Raman berada di kawasan strategis yang menjadi batas alami antara Kota Metro, Kabupaten Lampung Tengah, dan Kabupaten Lampung Timur. Posisi itulah yang membuat Capit Urang mudah dijangkau dari berbagai daerah. Tak mengherankan jika setiap akhir pekan kawasan ini dipadati pemancing dari Metro, Pekalongan, Batanghari, Trimurjo, Punggur hingga Sukadana.

Ramainya aktivitas mulai terasa selepas salat Ashar. Para pemancing tampak memilih titik favorit di sepanjang tepian bendung. Ada yang datang dengan peralatan sederhana, ada pula yang membawa perlengkapan memancing profesional lengkap dengan berbagai jenis joran, reel, dan kotak umpan. Meski berbeda perlengkapan, semangat mereka sama, menikmati sore sambil menunggu pelampung perlahan tenggelam.

Di sela-sela aktivitas memancing, suasana kekeluargaan begitu terasa. Para penghobi saling berbagi umpan, bertukar pengalaman, bahkan memberikan tips kepada pemancing pemula. Sesekali gelak tawa pecah ketika ikan yang hampir berhasil diangkat justru kembali lepas ke dalam air. Tak ada rasa kecewa berlebihan. Bagi mereka, memancing bukan sekadar soal hasil, tetapi tentang menikmati proses.

Keindahan Capit Urang semakin sempurna ketika matahari mulai bergerak ke ufuk barat. Langit berubah jingga keemasan, memantulkan cahaya indah di permukaan Way Raman yang tenang. Panorama senja menjadi bonus yang tak pernah gagal memikat setiap pengunjung. Banyak pemancing yang sejenak meletakkan jorannya hanya untuk mengabadikan momen matahari terbenam menggunakan telepon genggam.

Di kejauhan, beberapa nelayan tradisional tampak perlahan menyusuri aliran Way Raman menggunakan perahu kecil. Sebagian memasang jaring, sementara lainnya mengangkat hasil tangkapan. Aktivitas mereka menjadi pemandangan khas yang memperlihatkan bahwa sungai ini bukan hanya sumber pengairan, tetapi juga sumber penghidupan bagi masyarakat sekitar.

Salah seorang pemancing asal Kota Metro, Rudi Iswanto (42), mengaku hampir setiap pekan datang ke Capit Urang bersama teman-temannya. Menurutnya, tempat tersebut menawarkan ketenangan yang sulit ditemukan di tengah padatnya aktivitas sehari-hari.

"Kalau di sini bukan hanya mencari ikan. Yang dicari itu suasananya. Anginnya sejuk, pemandangannya bagus, apalagi kalau senja seperti ini. Kalaupun tidak dapat ikan, hati tetap senang," ujarnya sambil tersenyum kepada Kupastuntas.co, Minggu (5/7/2026). 

Hal senada disampaikan Novi (32), seorang pemancing perempuan asal Lampung Tengah yang datang bersama suaminya. Ia mengungkapkan memancing kini bukan lagi identik dengan hobi kaum pria. Menurutnya, semakin banyak perempuan yang menikmati aktivitas tersebut sebagai cara melepas penat sekaligus menghabiskan waktu bersama keluarga.

"Awalnya cuma menemani suami, lama-lama jadi suka sendiri. Di sini aman, suasananya nyaman, anak-anak juga senang melihat ikan dan perahu nelayan. Jadi sekalian rekreasi murah bersama keluarga," katanya.

Menurut para penghobi, Way Raman masih menjadi habitat berbagai jenis ikan air tawar seperti nila, mujair, tawes, baung, lele, hingga hampala. Meski hasil tangkapan tidak selalu melimpah, sensasi menunggu sambaran ikan justru menjadi daya tarik utama yang membuat mereka terus kembali ke Capit Urang.

Keberadaan kawasan ini juga mulai memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Beberapa warga terlihat menjual kopi, minuman dingin, mi instan, gorengan, hingga umpan pancing di sekitar rute jalan menuju lokasi. Aktivitas sederhana tersebut perlahan menghidupkan roda perekonomian lokal tanpa mengubah karakter alami kawasan bendung.

Melihat potensi yang dimiliki, Capit Urang dinilai layak dikembangkan sebagai destinasi wisata minat khusus berbasis alam. Penataan area parkir, penyediaan tempat sampah, gazebo, penerangan, hingga fasilitas pendukung lainnya diyakini dapat meningkatkan kenyamanan pengunjung tanpa menghilangkan fungsi utama Bendung Way Raman sebagai infrastruktur pengairan.

Saat azan Magrib mulai terdengar dari kejauhan, satu per satu para pemancing mulai menggulung benang pancingnya. Ada yang membawa pulang ember berisi ikan, ada pula yang pulang tanpa hasil tangkapan. Namun dari raut wajah mereka tampak kepuasan yang sama. 

Capit Urang telah menghadirkan lebih dari sekadar tempat memancing. Di tepian Bendung Way Raman, yang menjadi pertemuan Kota Metro, Lampung Tengah, dan Lampung Timur, orang-orang menemukan ketenangan, persahabatan, serta pelajaran sederhana bahwa kebahagiaan sering kali hadir dari hal-hal yang paling dekat dengan alam. (*)

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari